Minggu, 15 Januari 2012

SHMILY :)

Kakek-nenekku sudah lebih dari setengah abad menikah,

namun tetap memainkan permainan istimewa itu sejak

mereka bertemu pertama kali. Tujuan permainan mereka

adalah menulis kata "shmily" di tempat yang secara tak

terduga akan ditemukan oleh yang lain. Mereka bergantian

menulis "shmily" di mana saja di dalam rumah. Begitu

yang lain menemukannya, maka yang menemukan sekali

lagi mendapat giliran menulis kata itu di tempat tersembunyi.

Dengan jari mereka menorehkan "shmily" di dalam

wadah gula atau wadah tepung, untuk ditemukan oleh

siapa pun yang mendapat giliran menyiapkan makanan.

Mereka membuatnya dengan embun yang menempel pada

jendela yang menghadap ke beranda belakang, tempat

nenekku selalu menyuguhkan puding warna biru yang

hangat, buatannya sendiri. "Shmily" dituliskan pada uap

yang menempel pada kaca kamar mandi setelah seseorang

mandi air panas; kata itu akan muncul berulang-ulang

setiap kali ada yang selesai mandi. Nenekku bahkan pernah

membuka gulungan tisu toilet dan menulis "shmily" di

ujung gulungan itu.

"Shmily" bisa muncul di mana saja. Pesan-pesan

singkat dengan "shmily" yang ditulis tergesa-gesa bisa

ditemukan di dasbor atau jok mobil, atau direkatkan pada

kemudi. Catatan-catatan kecil itu diselipkan ke dalam

sepatu atau diletakkan di bawah bantal. "Shmily" digoreskan

pada lapisan debu di atas penutup perapian atau pada

timbunan abu di perapian. Di rumah kakek-nenekku, kata

yang misterius itu merupakan sesuatu yang penting, sama

pentingnya dengan perabotan.

Aku memerlukan waktu lama sekali sebelum benarbenar

bisa memahami dan menghargai permainan kakeknenekku.

Sikap skeptis membuatku tidak percaya bahwa

cinta sejati itu ada—cinta yang murni mengatasi segala

suka dan duka. Meski begitu, aku tak pernah meragukan

hubungan kakek-nenekku. Mereka sungguh saling

mencintai. Dengan cinta yang lebih mendalam daripada

kemesraan yang mereka tunjukkan; cinta adalah cara dan

pedoman hidup mereka. Hubungan mereka didasarkan

pada pengabdian dan kasih yang tulus, yang tidak semua

orang cukup beruntung untuk mengalaminya.

Kakek dan Nenek selalu bergandengan tangan kapan

saja kesempatan memungkinkan. Mereka berciuman sekilas

bila bertabrakan di dapur mereka yang mungil. Mereka

saling menyelesaikan kalimat pasangannya. Setiap hari

mereka bersama-sama mengisi teka-teki silang atau permainan

acak kata. Nenekku membisikkan kepadaku bahwa

kakekku sangat menarik, dan bahwa semakin tua Kakek

semakin tampan. Menurut Nenek, dia tahu "bagaimana

membuat Kakek bahagia." Sebelum makan mereka selalu

menundukkan kepala dan mengucap syukur atas rakhmat

yang mereka terima: keluarga yang bahagia, rezeki yang

cukup, dan pasangan mereka.

Tetapi, dalam kehidupan kakek-nenekku ada satu sisi

kelam: nenekku menderita kanker payudara. Penyakit itu

pertama kali diketahui sepuluh tahun sebelumnya. Seperti

yang selalu dilakukannya, Kakek mendampingi Nenek

menjalani setiap tahap pengobatan. Dia menghibur Nenek

di kamar kuning mereka, yang sengaja dicat dengan warna

itu agar Nenek selalu dikelilingi sinar matahari, bahkan

ketika dia terlalu sakit untuk keluar rumah.

Sekali lagi kanker menyerang tubuh Nenek. Dengan

bantuan sebatang tongkat dan tangan kakekku yang kukuh,

mereka tetap pergi ke gereja setiap pagi. Tetapi nenekku

dengan cepat menjadi lemah sampai, akhirnya, dia

tak bisa lagi keluar rumah. Kakek pergi ke gereja sendirian,

berdoa agar Tuhan menjaga istrinya. Sampai pada suatu

hari, apa yang kami takutkan terjadi. Nenek meninggal.

"Shmily." Kata itu ditulis dengan tinta kuning pada

pita-pita merah jambu yang menghias buket bunga duka

untuk nenekku. Setelah para pelayat semakin berkurang

dan yang terakhir beranjak pergi, para paman dan bibiku,

sepupu-sepupuku, dan anggota keluarga lainnya maju mengelilingi

Nenek untuk terakhir kali. Kakek melangkah

mendekati peti mati nenekku lalu, dengan suara bergetar,

dia menyanyi untuk Nenek. Bersama air mata dan

kesedihannya, lagu itu dia nyanyikan; lagu ninabobo dalam

alunan suara yang dalam dan parau.

Tergetar oleh kesedihanku sendiri, aku takkan pernah

melupakan saat itu. Karena pada saat itulah, meskipun aku

belum dapat mengukur dalamnya cinta mereka, aku mendapat

kehormatan menjadi saksi keindahannya yang abadi.

S-h-m-i-l-y: See How Much I Love You.

Lihat, betapa aku mencintaimu.

Terima kasih, Kakek dan Nenek, karena telah mengizinkan

aku melihatnya.

-Laura Jeanne Allen-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar