Mendung memayungi bumi sore ini. Sepi tanpa ayah. Ku pandangi Nanda yang tertidur pulas didepanku. Kemudian pandanganku beralih pada foto besar ibu di dinding. Hatiku menangis. Hampir lima bulan ibu pergi meninggalkan kami semua dan tak kembali karena penyakitnya. Adikku Nanda, masih sering mencarinya. Ia masih belum terima dengan kepergian ibu. Oh..malangnya dia. Masih terlalu kecil untuk ditinggal ibu. Apalagi aku sibuk sekolah dan ayah juga bekerja. Tiap hari, Nanda cuma ditemani kak Azna tetangga sebelah. Tentu dia sangat merasa kesepian sekali.
Satu lagi masalahku kembali hadir. Dua hari sudah ayah pergi keluar kota karena kerjaannya. Haahhh... menambah kesepianku saja. Apa ayah tak mengerti betapa aku dan Nanda sangat membutuhkannya..?? Fiuuhhh.. aku harus semakin kuat seperti kata ibu! Tiba-tiba ku dengar pintu diketuk. "Siapa...!!!???" teriakku seraya berlari menuju pintu. Ku buka pintu rumah yang tak terkunci. Kreekk... suara derekan pintu besar setinggi dua meter lebih, mengiringi keterkejutanku. Ayah berdiri didepan pintu seraya tersenyum. Aku segera menyalami tangannya yang mulai keriput. "kenapa ayah pulang cepat sekali?? bukannya ayah bilang 3 minggu baru kembali??"tanyaku heran. "memang kenapa? Jadi ayah gak boleh pulang nih?" ayah membalas pertanyaanku sambil menggoda. "ihhh.. bukan begituu.." kata-kataku terhenti melihat seorang wanita bersama anak laki-laki yang sepertinya seumuranku keluar dari mobil ayah. Aku segera menarik lengan Ayah dan melekatkan telinganya didepan mulutku "ayah, siapa mereka?!" bisikku sambil memandang dua orang yang sangat asing bagiku. "udah kamu jangan banyak tanya sekarang..." jawab ayah singkat sambil berjalan santai memasuki rumah. Huuhh... aku hanya membuntutinya dari belakang. Di ujung pelupuk mata, terlihat tamu tak ku kenal itu mengikuti masuk.
"Silahkan duduk Mar," kata ayah kepada anak laki-laki itu. Dia hanya tersenyum kemudian duduk di sofa bersama wanita tadi yang ternyata ibunya. Sejuta pertanyaan tentang mereka masih menggelayuti otakku. Dan rupanya Ayah pun tak ingin aku tenggelam dalam penasaran. "Ris, kenapa kamu masih bengong disitu! apa yang biasa dilakukan kalau ada tamu begini???" tegur ayah menghancurkan semua rasa penasaranku yang tertuang dalam diam dibalik tembok antara ruang tamu dan ruang makan. "iya, Risda ngerti. Mau dibuatkan apa? teh atau sirup ayah?" "sirup dingin aja. panas-panas begini paling enak minum sirup kan.." jawab ayah sambil melepas sepatunya kemudian melanjutkan "oiya, setelah itu panggil Nanda juga ya. Biar kita ngobrol sama-sama diruang depan" "iya.." aku mengangguk.
Minum telah tersedia di meja. Nanda masih mengucek-ngucek matanya yang masih merah karena mengantuk. Aku duduk disamping ayah yang hendak memulai pembicaraan. Seketika suasana hening. Aku dan anak laki-laki itu saling pandang. Dia tersenyum. Ihh..? senyum apa itu? "ehemmm.." ayah berdehem kemudian melanjutkan "jadi saya mohon maaf ya bu karena tadi hampir menabrak ibu dan Umar. Saya benar-benar sedang buru-buru" ucap ayah. Apaa!!?? ayah hampir menabrak wanita dan anaknya ini!!?? hatiku terus berbicara. Kemudian ayah melanjutkan "Jadi bagaimana tawaran saya yang tadi bu? apa ibu bersedia?" tanya ayah kepada wanita itu. Pertanyaan ayah kali ini benar-benar membuat keherenanku mencapai puncak kepala. "iyaaa.. bagaimana ya pak, saya sangat senang lagi dengan tawaran bapak. Saya merasa beruntung bertemu bapak walau hampir saya dan anak saya tertabrak" jawab wanita itu panjang lebar. Ayah hanya tertawa kecil diikuti wanita itu. Sementara aku, Nanda, dan anak laki-lakinya hanya terdiam. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera berceloteh "jadi ayah, siapa mereka?" Ayah menghentikan tawa kecil sambil menepuk dahi. "Oiya,,! ayah hampir lupa. kenalkan, ini ibu Marni dengan anaknya Umar. Mereka akan bantu-bantu kita disini. Ayah tahu Ris, kamu sangat kesulitan membagi waktu antara pekerjaan rumah dan sekolah. Untung ayah bertemu ibu Marni dan Umar. Tadi ayah hampir menabrak mereka yang sedang menyebrang. Tahu gak Ris, ayah mimpi buruk tentang kamu dan Nanda makanya ayah pulang cepat-cepat!" cerita ayah panjang lebar. "Ooo... sekarang Risda ngerti. Iya betul yah, emang Risda butuh banget orang yang bisa bantu pekerjaan rumah. Makasih ya yah.. Oia, selamat datang juga bu, semoga betah disini!" sambutku riang ketika tahu siapa tamu ayah yang akan menjadi penghuni rumah baru dirumah ini. Dan selanjutnya, obrolan hangat pun terjalin antara kami semua. Hmm.. awal yang baik.
Satu lagi masalahku kembali hadir. Dua hari sudah ayah pergi keluar kota karena kerjaannya. Haahhh... menambah kesepianku saja. Apa ayah tak mengerti betapa aku dan Nanda sangat membutuhkannya..?? Fiuuhhh.. aku harus semakin kuat seperti kata ibu! Tiba-tiba ku dengar pintu diketuk. "Siapa...!!!???" teriakku seraya berlari menuju pintu. Ku buka pintu rumah yang tak terkunci. Kreekk... suara derekan pintu besar setinggi dua meter lebih, mengiringi keterkejutanku. Ayah berdiri didepan pintu seraya tersenyum. Aku segera menyalami tangannya yang mulai keriput. "kenapa ayah pulang cepat sekali?? bukannya ayah bilang 3 minggu baru kembali??"tanyaku heran. "memang kenapa? Jadi ayah gak boleh pulang nih?" ayah membalas pertanyaanku sambil menggoda. "ihhh.. bukan begituu.." kata-kataku terhenti melihat seorang wanita bersama anak laki-laki yang sepertinya seumuranku keluar dari mobil ayah. Aku segera menarik lengan Ayah dan melekatkan telinganya didepan mulutku "ayah, siapa mereka?!" bisikku sambil memandang dua orang yang sangat asing bagiku. "udah kamu jangan banyak tanya sekarang..." jawab ayah singkat sambil berjalan santai memasuki rumah. Huuhh... aku hanya membuntutinya dari belakang. Di ujung pelupuk mata, terlihat tamu tak ku kenal itu mengikuti masuk.
"Silahkan duduk Mar," kata ayah kepada anak laki-laki itu. Dia hanya tersenyum kemudian duduk di sofa bersama wanita tadi yang ternyata ibunya. Sejuta pertanyaan tentang mereka masih menggelayuti otakku. Dan rupanya Ayah pun tak ingin aku tenggelam dalam penasaran. "Ris, kenapa kamu masih bengong disitu! apa yang biasa dilakukan kalau ada tamu begini???" tegur ayah menghancurkan semua rasa penasaranku yang tertuang dalam diam dibalik tembok antara ruang tamu dan ruang makan. "iya, Risda ngerti. Mau dibuatkan apa? teh atau sirup ayah?" "sirup dingin aja. panas-panas begini paling enak minum sirup kan.." jawab ayah sambil melepas sepatunya kemudian melanjutkan "oiya, setelah itu panggil Nanda juga ya. Biar kita ngobrol sama-sama diruang depan" "iya.." aku mengangguk.
Minum telah tersedia di meja. Nanda masih mengucek-ngucek matanya yang masih merah karena mengantuk. Aku duduk disamping ayah yang hendak memulai pembicaraan. Seketika suasana hening. Aku dan anak laki-laki itu saling pandang. Dia tersenyum. Ihh..? senyum apa itu? "ehemmm.." ayah berdehem kemudian melanjutkan "jadi saya mohon maaf ya bu karena tadi hampir menabrak ibu dan Umar. Saya benar-benar sedang buru-buru" ucap ayah. Apaa!!?? ayah hampir menabrak wanita dan anaknya ini!!?? hatiku terus berbicara. Kemudian ayah melanjutkan "Jadi bagaimana tawaran saya yang tadi bu? apa ibu bersedia?" tanya ayah kepada wanita itu. Pertanyaan ayah kali ini benar-benar membuat keherenanku mencapai puncak kepala. "iyaaa.. bagaimana ya pak, saya sangat senang lagi dengan tawaran bapak. Saya merasa beruntung bertemu bapak walau hampir saya dan anak saya tertabrak" jawab wanita itu panjang lebar. Ayah hanya tertawa kecil diikuti wanita itu. Sementara aku, Nanda, dan anak laki-lakinya hanya terdiam. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera berceloteh "jadi ayah, siapa mereka?" Ayah menghentikan tawa kecil sambil menepuk dahi. "Oiya,,! ayah hampir lupa. kenalkan, ini ibu Marni dengan anaknya Umar. Mereka akan bantu-bantu kita disini. Ayah tahu Ris, kamu sangat kesulitan membagi waktu antara pekerjaan rumah dan sekolah. Untung ayah bertemu ibu Marni dan Umar. Tadi ayah hampir menabrak mereka yang sedang menyebrang. Tahu gak Ris, ayah mimpi buruk tentang kamu dan Nanda makanya ayah pulang cepat-cepat!" cerita ayah panjang lebar. "Ooo... sekarang Risda ngerti. Iya betul yah, emang Risda butuh banget orang yang bisa bantu pekerjaan rumah. Makasih ya yah.. Oia, selamat datang juga bu, semoga betah disini!" sambutku riang ketika tahu siapa tamu ayah yang akan menjadi penghuni rumah baru dirumah ini. Dan selanjutnya, obrolan hangat pun terjalin antara kami semua. Hmm.. awal yang baik.
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar